Senin, 06 Januari 2014

PERBENTURAN DIANTARA DUA BUDAYA DAN PERADABAN DUNIA Oleh: Lathifatul Izzah



PERBENTURAN DIANTARA DUA BUDAYA DAN PERADABAN DUNIA
Oleh: Lathifatul Izzah

Judul buku      : Sang Manusia Sempurna, Antara Filsafat Islam Dan Hindu
Penulis                        : Seyyed Mohsen Miri
Penerjemah     : Zubair
Penerbit          : Teraju Mizan, Bandung
Cetakan           : Pertama/2004 
Tebal Buku     : xvi + 236 halaman

Di balik kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai, moderenisme dapat mereduksi nilai-nilai luhur kemanusiaan. Ilmu pengetahuan sebagai komponen dominan peradaban modern telah mereduksi manusia ke tingkat hewani atau bahkan benda-benda mati belaka. Manusia dalam banyak tradisi keagamaan dipandang sebagai “citra” ilahi. Dalam penelitian manusia seringkali direduksi ke tingkat hewani. Sehingga dalam pandangan sains modern, manusia tidak ubahnya seekor tikus dan seonggok benda mati, laksana “sebutir debu di antara debu-debu lain yang berserakan di alam semesta.”
Dampak lain modernisme adalah manusia banyak mengalami kekeringan spiritual dan krisis multi-dimensi. Kemudian kekeringan dan krisis tersebut memunculkan berbagai bentuk penyakit jasmani atau rohani. Mereka tidak sedikit melakukan perbuatan aneh-aneh, misalnya memakai narkoba, korupsi, prostitusi, perselingkuhan bahkan lari ke jalan-jalan dst. Perbuatan tersebut dianggap dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dan dapat menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Perilaku aneh tersebut justru melahirkan masalah baru bagi kehidupan dirinya dan lingkungan masyarakatnya. Hingga akhir-akhir ini bermunculan rei ki-rei ki atau pusat-pusat penyembuhan alternatif yang instan dan dianggap dapat menyembuhkan segala bentuk penyakit.
Lewat karya monumentalnya, The Perfect Man, A Comparative Study in Indian and Iranian Philosophical Thought, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi  Sang Manusia Sempurna Antara Filsafat Islam dan Hindu Seyyed Mohsen Miri yang lahir di Teheran Iran, tahun 1960 dan sekarang menjabat sebagai Rektor Islamic College for Advanced Studies (ICAS) London Cabang Jakarta, berusaha untuk mengajak pembaca merenungkan sejenak tawaran dari dua budaya dan peradaban besar dunia, yakni Islam (Iran) dan Hindu (India).
Masing-masing budaya dan peradaban ini diwakili Jalaluddin Rumi (dari Islam), mistikus yang lebih dikenal dengan puisi cinta kepada Tuhan dan Mulla Shadra adalah salah seorang tokoh yang mampu melakukan sintesa atas berbagai aliran filsafat Islam. Sementara dari Hindu dipresentasikan oleh dua Filosof India, Sri Aurobindo dan Swami Vivekananda. Mereka adalah filosof-filosof Hindu yang banyak makan asam-garamnya kehidupan modern di Barat. Kemudian mereka mendalami kehidupan asketisisme dan mistisisme.
Dari kemasan ini, Miri juga berusaha menawarkan dan memberi jalan alternatif kepada seluruh pembaca untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dan mengajak umat manusia agar kembali kepada fitrahnya, bahwa manusia bukan makhluk biologis semata tetapi makhluk spiritual. Manusia terikat secara akrab bukan hanya dengan dunia fisik, tetapi juga dengan dunia spiritual yang menyebabkan dirinya berpotensi bukan hanya untuk mengenal dunia fisik, tetapi dunia non-fisik atau spiritual. Manusia bukan merupakan seonggok benda mati belaka, tetapi merupakan intisari kosmos (alam). Manusia adalah “mikrokosmos” yang telah dijadikan sebagai “sebab fundamental” atau bahkan sebagai tujuan akhir penciptaan alam.
Manusia sempurna akan mengalami kefanaan bersama Tuhan, mengaktualisasikan sifat-sifat Tuhan, tanpa harus menghindar dari pergaulan dan persoalan dunia. Kebahagiaan dan kesempurnaan akan dicapai melalui dunia dan tubuh. Sebagai pendamping dan pelayan bagi masyarakat adalah kebanggaan dan kebahagiaan bagi dirinya. Ia tidak terpengaruh dengan perubahan kondisi masyarakatnya dan kekaguman orang lain terhadapnya. Yang paling menarik bagi dirinya hanyalah melihat esensi dan kemurahan Tuhan.
Mulyadhi Kartanegara, salah seorang filosof muslim Indonesia kini dalam pengantar buku ini mengatakan bahwa manusia sempurna adalah satu-satunya wakil dari Sang Pencipta yang diberi amanah luhur untuk mengejawantahkan kehendak-kehendak Tuhan di muka bumi. Ia adalah wakil bukan dari sembarang raja, tetapi wakil dari Raja di Raja, yakni Tuhan yang Maha Esa.
Masing-masing pribadi memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi biologis (badaniah) dan spiritualnya (jiwa) melalui perjalanan spiritual yang panjang, tidak terputus, dan tidak lekang oleh ruang dan waktu. Dalam Islam perjalanan spiritual ini dapat ditempuh dengan dua jalan, yaitu jalan spekulatif dan jalan praktis.
 Jalan spekulatif (teoritis) adalah jalan yang mengarah pada intelek, pemahaman, dan pengertian manusia. Sedang Jalan praktis dapat ditempuh melalui empat tingkatan, pertama penyucian penampilan dengan memperhatikan hukum Tuhan dan ajaran agama, seperti puasa, zakat, sholat, peduli pada keluarga, menyantuni anak yatim dan orang miskin, memberikan pendidikan, membangun rumah sakit dan mendirikan pusat-pusat bantuan kemanusiaan, kedua penyucian hati dan batin dari hal-hal yang tidak bermoral, ketiga menghiasi jiwa dengan berbagai bentuk dan keuntungan yang suci, dan keempat memfanakan (menyatukan) jiwa ke dalam Tuhan sambil memperhatikan keaguangan Tuhan dan Kerajaan-Nya, yang merupakan akhir dari petualangan pertama manusia (hal. 84).
Hindu menyebut jalan spiritual ini dengan sebutan yoga yang terdiri dari empat bentuk: Yoga Jnana adalah jenis yoga yang menekankan pada pembebasan kebodohan yang akan membawa manusia pada pengetahuan. Yoga Bhakti adalah bentuk yoga yang menawarkan jalan pemujaan dan cinta untuk menuju Brahman, pemujaan terhadap gambar dan berhala yang mengindikasikan Dewa dan Dewi, berdo’a, zikir, dan senandung nyanyian-nyanyian ketuhanan, kemudian dilanjutkan dengan meditasi, dan terakhir ketiadaan yang memuja dan yang dipuja yang keduanya saling menyatu, sering disebut dengan moksa. Yoga Karma adalah jenis yoga yang menekankan pada sikap dan perbuatan baik. Yoga Raja adalah bentuk yoga yang bersifat fisik dan psikis yang menekankan pada pengendalian akal dan tubuh. (hal. 207). 
Dari jalan spiritual yang ditawarkan oleh kedua agama tersebut, masing-masing pribadi manusia bebas memilih jalan yang dikehendaki dalam mengembangkan jiwa spiritulnya untuk mencapai tingkat kesempurnaannya. Jalan kesempurnaan tidak hanya diklaim salah satu agama, misalnya Islam atau Hindu saja. Agama-agama lain juga mempunyai hak dan berwajiban membentuk dan menawarkan konsep insan kamil (manusia sempurna).
Oleh sebab itu Miri memandang bahwa persoalan tersebut bukan persoalan pribadi atau golongan, tetapi persoalan bersama. Dalam buku ini Miri mengingatkan pada para pembaca agar melakukan dialog dan kerjasama dalam menghadapi persolan-persoalan kemanusiaan. Tujuan terpenting adalah untuk membangun peradaban baru yang lebih baik dan dinamis dalam menebarkan perdamaian, keamanan, keadilan dan kebahagiaan kepada seluruh alam. Keberagamaan atau religiositas masing-masing umat beragama yang sudah melekat dalam masing-masing ajaran agamanya dapat dijadikan pintu masuk untuk melakukan gerakan tersebut. 
Buku ini akan semakin terasa nikmat dibaca jika dipersandingkan dengan buku Farid Esack, On Being a Muslim Finding a Religious Path in the World Today (1999) yang dilalihbahasakan ke Indonesia On Being a Muslim Fajar Baru Spiritualitas Islam Liberal-Plural dan buku Sayyed Hussein Nashr, Islamic Spirituality: Manifestations (World Spirituality - An Encyclopedic History of the Religious Quest) dan Islamic Spirituality: Foundation (world spirituality). Esack dan Nashr hanya berusaha mengungkap jalan spiritual Islam, tetapi tidak berusaha untuk membandingkan dan mempertemukan dengan agama-agama lain, sebagaimana yang dilakukan Miri.
 Buku ini baik dan menarik untuk dibaca semua kalangan, lebih-lebih para budayawan, ilmuwan dan agamawan yang akhir-akhir ini ditantang oleh terpaan badai moderinisme.


*Lathifatul Izzah: salah seorang kader Perempuan Berbudaya Adiluhung angkatan Pertama yang aktif di PW Fatayat DIY dan masih mengikuti Pendidikan Ulama Perempuan (PUP) angkatan IV Rahima.

*Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga (almamater penulis), Religi, Vol. IV, No. 2, Juli 2005.

Kamis, 26 Desember 2013

Tahun Baru..

Sebentar lagi pergantian tahun akan kita lalui, musim hujan tetap terus berlanjut...

pergantian tahun masehi, pergantian tahun Hijriah, pergantian tahun Cina,bahkan pergantian tahun Jawa...
mempunyai makna yang sama...

secara fisik tidak ada yang berubah, bumi masih berputar pada porosnya..

matahari dan bulan tunduk kepada takdirnya bergerak menjaga keseimbangan tata surya..

jikalau tidak ada hari, bulan, tahun... mungkin semua berjalan biasa.. tidak ada yang istimewa

tetapi manusia diciptakan untuk membentuk peradaban/budaya dengan akalnya

peradaban terus berganti mengikuti eranya,karena secara naluriah manusia selalu membutuhkan momentum.

momentum yang berhubungan erat dengan ingatan. ingatan yang ingin selalu di ingat atau dikenang

 contohnya saja ketika pertama kali si kecil berhasil memanggil "ayah" atau "bunda". saat itu  rasanya... adalah hal yang sangat indah.., moment ketika memenangkan suatu perlombaan/kejuaraan adalah suatu yang sangat membanggakan, 

moment bersama para sahabat dengan segala canda tawa adalah hal yang luar biasa

atau moment ketika sang arjuna terpana menatap sang dewi..., ketika panah asmara menusuk di dada cieeee...

atau moment bencana-bencana dahsyat.. rasanya wajib dicatat dan diingat.

bersyukurlah manusia-manusia pendahulu kita sangat rajin mencatat/menulis walaupun dengan peralatan seadanya.

hari, bulan, tahun sangat berkaitan erat dengan apa-apa yang sudah mereka torehkan. baik diatas kertas, batu, atau kulit... menjadi warisan/peninggalan yang sangat luar biasa......

seandainya kita bisa membaca, alampun mencatat apa yang terjadi pada dirinya...
kita masih bisa tahu saat krakatau meletus walaupun belum lahir pada saat itu,  sehingga timbullah sang anak krakatau.... 

merapi yang secara rutin meletus, atau tsunami  yang muncul di aceh, sesungguhnya alam mencatat dan memberi tanda kepada manusia.. 

bahkan seonggok batu kusampun bisa bercerita banyak perihal dirinya .. nahh mungkin kalo yang ini bagiannya para geologist yang menjelentrehkan alias menerangkan hehehe....

Karena itu  pergantian tahun termasuk moment yang tidak ada salahnya dihayati.

moment untuk membaca catatan-catatan lama yang sudah kita buat yang kemudian 

kita selami, kata orang-orang tua jawa : digelar digulung.... di gelar digulung ....(ibarat 

tikar digelar/dibuka kemudian digulung/ditutup) untuk diambil segala kebaikan dan membuang segala kejelekan.

bisa juga diibaratkan melihat apakah progress dari kehidupan tahun kemarin?

sudah pasti resolusi yang kemudian dibuat semua orang standard saja 
(semoga lebih baik dari tahun sebelumnya)...

hanya saja kebaikan-kebaikan yang akan kita usahakan di tahun yang kita bilang "baru" ini , dimulai dengan level berbeda untuk tiap-tiap orangnya.

Bahkan kembang apipun hanyalah seonggok benda jelek yang hanya akan dibakar dan kemudian menjadi abu... tetapi sebelum sirna tertiup angin dia menjadi sesuatu yang indah dipandang mata....("sesuatu gitu yaa".. kata sang biduanita  syahrini )


selamat bersiap menyambut tahun baru..... semoga semua menjadi lebih baik di tahun sekarang.. (standard bangetttt  bunndaaaa...)   :))

 

Senin, 23 Desember 2013

SUARA DARI DALAM ALMARI

Matahari sudah mulai merekah  ketika Frida keluar rumah. Dia harus bergegas karena jam diruang tamu sudah menunjukan pukul  setengah tujuh pagi. “ Frida... segera berangkat Nak....” terdengar suara ibunya dari dalam rumah mengingatkannya untuk segera bergegas. “ Iya Bu...ini tinggal pake kaos kaki...” jawab Frida. “ Bu<Frida berangkat ya....Assalamu’alaikum...” sambil bersalaman Frida segera berlari keluar rumah. “ Wa’alaikum salam....hati-hati dijalan ya Nak..” jawab Ibu Frida.
Sambil setengah berlari, Frida bergegas menuju sekolahnya. Untunglah sekolah Frida tidak terlalu jauh sehingga dia masih bisa berharap untuk tidak terlambat masuk sekolah pagi ini. 
 Teng...teng....teng....teng......dari kejauhan terdengar suara bel sekolah. Frida semakin  cepat berlari. Dia tidak mau mendapatkan hukuman dari Bu Emi,wali kelasnya karena terlambat masuk kelas. Untunglah dia sampai dikelas tepat waktu. Sambil terengah-engah dia meletakkan tas sekolahnya diatas bangku sekolah. Bruuukkk....suara yang ditimbulkannya membuat Amel teman sebangkunya kaget dan bertanya,” Kamu kenapa,Frida? Tidak biasanya lho kamu bertingkah begini...mimpi apa sih kamu semalam...?” . Dengan sedikit terengah-engah Frida menjawab,” Aku semalam tidur telambat Mel...” “ Lho,kenapa? Kamu mengerjakan PR dari Bu Emi apa tidak..?”lanjut Amel. “  Iya, PR dari Bu Emi sudah kukerjakan,tapi aku tetap nggak bisa tidur karena ada suara-suara aneh di kamarku...”
“Trus, itu suara apaan...? “ kejar Amel. “  Aku nggak tahu...sudah kucari-cari sampai dibawah tempat tidurku tetap aja aku tidak menemukan suara apa itu...makanya aku terlambat tidur....ih sebel...tapi ndak apa-apa deh, nanti pulang sekolah aku akan mencari asal suara itu....” jawab Frida. Akhirnya pembicaraan mereka terhenti dengan suara sapaan dari Bu Emi yag tiba-tiba masuk kelas,” Selamat pagi anak-anak.......”. Dan  sepanjang hari itu pelajaran sekolah serasa lambat sekali. Frida tidak dapat memusatkan perhatiannya mengikuti pelajaran karena pikirannya sudah melayang-layang sampai kerumah. Rasa penasarannya semakin memuncak untuk mencari tahu asal suara yang dia dengar semalam sehingga membuatnya bangun terlambat. Begitu bel sekolah telah berbunyi menandakan waktunya peljaran usai,Frida segera berlari meninggalkan kelas. Tak dihiraukannya lagi teriakan Amel,sahabatnya yang memanggil-manggil namanya.
Sesampainya dirumah, Frida segera meletakkan tas dan sepatu sekolahnya ditempat biasanya. Setelah makan siang,Frida segera masuk kamar tidurnya. Dalam benaknya masih ada rasa penasaran untuk mencari suara yang didengarnya semalaman. Frida mulai bergerak mendekati meja belajarnya. Satu persatu laci dimeja belajarnya dia tarik dan dibuka. Sambil meraba-raba ,diulurkannya tangannya sampai kepojok-pojok laci  seperti mencari sesuatu yang dia sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang dia cari dan apa yang akan dia temukan. 
Dari meja belajar, Frida beralih ke tempat tidur dan lemari..Gubrak....glodaakk......grreekkkk......suara yang ditimbulkannya sampai keluar kamar. ” Frida Sayang.....apa yang kamu cari Nak...?”  tiba-tiba ada suara dibelakang Frida yang membuat Frida terperanjat. “ Ah, Ibu...aku jadi kaget...ini Bu,Frida sedang mencari asal suara yang membuat Frida semalaman sulit tidur sehingga membuat Frida bangun terlambat tadi pagi...” jawab Frida. “ Suara apa,Nak..? lanjut Ibu Frida. “ Belum tahu,Bu...kedengarannya sih cuman dakk..dukk..dakk dukk..Frida nggak tahu apa itu Bu...makanya ini lagi dicari...mungkin Ibu bisa membantu Frida mencarinya....?” “ Baiklah...Ibu akan membantumu mencari sumber suaraitu.....”jawab Ibu Frida dengan sabar.
Berdua  dengan ibunya ,Frida sibuk mencari-cari asal muasal suara yang dia dengar semalam. Sambil terus melanjutkan pencarian,mereka juga menyapu lantai kamar dan membenahi ruangan yang sudah mereka geser-geser perabot didalamnya. Tanpa terasa  beberapa waktu telah berlalu hingga kemudian Frida berkata kepada Ibunya,” Bu,sudah dulu aja ya...aku sudah lelah..” Ibu Frida menjawab,” Iya Nak...lebih baik kamu istirahat dulu. Sekarang kamarmu sudah rapi dan bersih. Kita tunggu saja apa nanti malam suara itu masih kamu dengar lagi atau tidak..”  “Iya Bu...”jawab Frida.
Akhirnya,malam pun telah tiba.Setelah membereskan buku-buku pelajarannya Frida bersiap untuk tidur. Dengan jantung berdebar-debar, jedug....jedug....jedug... Frida menanti suara-suara yang dia dengar pada malam sebelumnya. Akan tetapi hingga larut malam suara itu tidak terdengar juga.Tak.....tak....tak....tak...suara jam dinding dikamar menemani Frida untuk berjaga-jaga. Keingintahuannya sangat besar untuk bisa mengetahui asal usul suara yang dia dengar kemarin malam. Tanpa terasa waktu sudah beranjak makin larut. Mata Frida sudah mulai sulit untuk tetap terbuka.Berkali-kali dia menguap menahan kantuk mmuuaacchhh.....mmmuuuaacchh......dan tetap mencoba terjaga. Tanpa sadar karena kelelahan menunggu, Frida pun terlelap. Sungguh enak sekali dia tertidur,hingga akhirnya , “ Frida...bangun Sayang....ayo shalat Subuh dulu...” Frida terperanjat karena suara dan sentuhan Ibunya yang membangunkannya. “ Bu,apakah ini sudah pagi? Tanya Frida. “Iya Nak...ini sudah pagi, ayo segera bangun..jawab Ibunya. “ Ahh....tapi aku masih mengantuk Bu.......nanti aja ya Bu,sebentar ...lagi  “ kata Frida sambil menggeliat.”   Ayo sayang,segera bangun...tidak lupa rapikan seprei dan selimutmu ya...”lanjut Ibu Frida.
Dengan pelan Frida beranjak dari tempat tidurnya. Meski dengan perasaan agak enggan,dirapikannya juga  tempat tidur  dan selimut yang telah dia pakai semalam. Setelah memakai sandal jepitnya yang mungil, diambilnya air wudhu dan dibasuhkannya ke tangan dan mukanya. Bbbbbbeeerrrrr......ada rasa dingin menyejukkan dia rasakan begitu air wudhu itu tersentuh tangan. Selesai shalat Subuh, Frida melanjutkan aktifitasnya kembali mencari-cari suara yang membuatnya penasaranan dari kemarin. Hingga tanpa terasa teriakan ibunya menyadarkan Frida,” Frida,sudah mandi belum Nak..?” Oiya,Bu....sebentar lagi...”.
Hingga akhirnya setelah mandi pagi, Frida segera sarapan pagi dan siap utnuk berangkat seklah. Sambil menyalami tangan ibunya dia berkata” Ibu,kenapa semalaman aku tidak mendengar suara aneh dari lemariku ya Bu...? Apakah suara itu sudah pergi dari kamarku..?” Ibu  Frida menjawab, “Sudahlah Sayang,pikirkan saja yang baik-baik mungkin itu hanya suara cicak yang sedang berkejaran...tenanglah..itu bukan apa-apa.Mungkin karena kamarmu sekarang sudah bersih dan rapi. Jadi,mulai besok bisakah diusahakan kamarmu selalu bersih dan rapi? “ lanjut Ibu Frida. ”Oiya pasti  bisa dong...pasti Bu...Frida berangkat ya..Asalamu’alaikum...” kata Frida.  “ Wa’alaikum salam...” jawab Ibu Frida. Sambil memegang daun pintu depan,Ibu Frida memandangi kepergian Frida dan  bergumam pelan,” Maafkan Ibu, anakku Sayang....terpaksa ibu melakukan hal itu untuk membuatmu mau membersihkan kamarmu sendiri karena selama ini kamu sering malas jika dinasehati ibu untuk membereskan kamar tidurmu....”. Iya memang suara-suara yang terjadi dimalam hari dikamar Frida bukanlah cicak,tikus ataupun hantu melainkan mainan robot ber-remote controle milik sepupu Frida yang dipinjam untuk menimbulkan suara dikamar Frida tanpa sepengetahuan Frida. Selama ini Frida selalu malas untuk membersihkan kamarnya sendiri. Nasehat yang diberikan oleh ibunya seolah hanya masuk telinga kiri keluar dari telinga kanan. Dengan sedikit taktik, ternyata mampu membuat Frida mau membersihkan kamarnya. Luar biasa.......
Badran, 14 Desember 2013       Oleh: Christanti Widyaningsih 
(Penggiat Rumah Singga Anak Mandiri)

Minggu, 15 Desember 2013

Pelatihan Jurnalistik

Bertempat di aula C lantai 2, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) Yogyakarta, Sabtu (14/12/13) dan Minggu (15/12/13) jam 10.00 hingga 16.00 WIB, pelatihan menulis bersama Nugraha Angkasa tetap terasa menyenangkan.Apalagi ditambah dengan menu makan siang nasi lothek, nasi goreng dan mie goreng kian menambah semangat puluhan peserta yang datang dari penjuru Sleman, Gunungkidul,Kulonprogo,Bantul dan Kota.
 Pria yang akrab dipanggil dengan nama mas Nugie mengatakan untuk mengawali suatu tulisan hendaknya diawali dengan mengangkat suasana hati yang ceria atau bersemangat. Euphoria yang timbul akan memunculkan ide-ide yang cemerlang sehingga tulisan akan mengalir dengan sendirinya, Mengangkat suasana hati bisa dengan mendengarkan musik, mendatangi tempat-tempat yang menyenangkan, menghirup udara segar pegunungan, permainan atau game-game.
Dalam suatu tulisan, GPS:gambar, perasaan dan suara,hendaknya dilukiskan dengan jelas sehingga pesan yang ingin disampaikan tercapai. Tidak kalah penting yang harus diperhatikan dalam menulis adalah Forsing yaitu, harus memiliki tujuan Apakah akan menulis fiksi, liputan, feature, opini dan lain-lain, demikian mas Nugie menambahkan.
 Praktek menulis adalah saat yang ditunggu-tunggu peserta.dengan mimik wajah beragam para peserta berusaha sekuat tenaga menuangkan pikirannya ke dalam tulisan.ada yang mengernyitkan dahi,merem melek, bahkan ada yang menulis dan mencoret berulang kali. Dan hasilnya....luar biasa, tulisan yang dibuat para peserta memiliki ciri khas masing-masing.ternyata kemampuan menulis peserta tidak disangka sangka.latar belakang yang beragam membuat tulisan yang beragam pula.mulai dari liputan, opini, fiksi, bahkan ada yang menulis diary.
Semoga dengan diadakannya pelatihan menulis ini dapat membangkitkan semangat para peserta untuk membiasakan budaya menulis.sehingga dapat menyuarakan budaya perempuan-perempuan DIY dengan santun.
( Miftah Bachria Saadah Kader pendamping pengembangan kreativitas perempuan berbasis budaya adiluhung)